Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2024

Waktu di Mana Aku Benar-Benar Melepasmu VI

Aku pergi.

Waktu di Mana Aku Benar-Benar Melepasmu V

Aku tak butuh tubuhmu, jika dengan seperti ini saja aku tetap hidup.

Aruna Alamanda

Untuk gadis kecilku, Aruna Alamanda.. Mungkin tanganku tak pernah bisa menyentuh dan membelaimu, mungkin aromamu tak pernah sampai dan tak pernah bisa kucium. Namun, ketahuilah, sekali pun kau tak pernah terlahir, sayangku padamu sudah terlalu banyak. Untuk gadis kecilku, Alamanda Yang tak pernah lahir juga hidup, aku mengasihimu setulusnya. Menginginkan peluk dan cium yang tak hanya semu. Membelaimu setiap waktu dengan sepenuh kasih. Untukmu, Alamanda Apa kau juga ingat dia--yang memberimu nama depan? Sukakah kau dengan nama itu? Ya, dia kini tak bersamaku lagi. Dia memaksaku merawat ingatan bersamamu sendirian. Sejujurnya aku teramat sedih. Apalagi jika dia benar-benar melupakanmu juga. Aku tidak masalah jika dia melupakanku, karena mungkin itu sudah seharusnya--aku tak lagi menjadi bagian hidupnya, tapi jika kau juga dilupakan, mungkin memang seharusnya kau juga tak pernah ada dalam sosok apapun. Maaf. Untukmu, Alamanda Apa yang kau rasakan ketika kau tak pernah ada dan tak pernah b...

Waktu di Mana Aku Benar-Benar Melepasmu lV

Aku benar-benar melepasmu dengan segalaku. Jelas sudah, aku kehilangan semuanya. Pada waktu di mana aku benar-benar melepasmu, aku mencoba tak menangis. Seharian, aku menulis surat untukmu. Kukirimkan lewat pesan singkat berurai air mata. Hanya kaubaca. Aku sudah tahu itu yang pada akhirnya akan terjadi. Mungkin kau sudah tak lagi percaya. Aku tak mengapa. Jika sampai hari ini kau masih saja berpikir aku sebagai seseorang yang jahat, tidakkah kau ketahui, aku berdoa di malam-malam panjang memohon ampun kepada tuhan: menyesali aku. Sementara kau masih terus mengutukku, bahkan membenciku sampai matimu. Pada waktu di mana aku benar-benar melepasmu, aku yang dingin memeluk diriku sendiri demi menghilangkan dingin yang kau buat untukku. Aku benci setiap ingatan-ingatan itu datang. Aku ingin semua ini cepat berlalu, tapi waktu berjalan begitu lambat.  

Waktu di Mana Aku Benar-Benar Melepasmu lll

Semoga ini benar-benar akhir di mana aku menghubungimu. Setelah ini, demi tuhan, aku akan bahagia tanpamu. Aku hanya memastikan, kau masih ada di kejauhan sana. Aku menunggu waktu yang mungkin begitu lama untuk membuktikan bahwa aku selalu ada, aku tak pernah ke mana-mana--aku tak hilang dari hidupmu. Di hari ulang tahunmu nanti, ketahuilah, aku akan jadi yang pertama mengingatnya. Dan demi tuhan, aku tak ingin menjadi jahat hanya gara-gara peristiwa lalu itu. Aku akan berubah menjadi lebih baik, meskipun kau di sana terus mengubah perasaanmu menjadi benci dan amarah yang sedemikian rupa kepadaku, meski kau masih menganggap diriku yang sama seperti dulu. Aku tak masalah. Itu masalahmu.

Waktu di Mana Aku Benar-Benar Melepasmu ll

Tiga belas tiga puluh delapan, aku masih berantakan. Bahkan cemburuku semakin tak karuan. Apa yang bisa dilakukan perempuan yang patah dan sehancur ini? Sementara, imajinasiku sudah semakin parah. Kini, ketika aku melihat perempuan dengan helaian kain di atas rambutnya, aku membayangkan juga bagaimana kau menaruh harap padanya, meletakkan lekat-lekat kedua pupil matamu di bola matanya, menyesapnya dalam-dalam sampai semuanya habis terisap. Kemudian, kau mengelus lembut pipinya, memegang dagunya, sementara bibirmu yang kejam mulai mengaduk-aduk polesan lipstick yang tempo hari kau pilihkan untuknya: entah di pagi, siang, sore, atau malam hari, perempuan itu kebingungan demi memilih warna lipstick apa yang akan ia poles di bibirnya untuk esok hari; "Yang kanan, nomor tiga dari atas, katamu." Demi tuhan, itu warna terracotta. Lalu, perempuan itu menyanjungmu dalam-dalam. Aku cemburu, sebab, beberapa bulan yang lalu kau melakukan hal yang sama kepadaku. Sesuatu yang tak mudah dil...

Waktu di Mana Aku Benar-Benar Melepasmu

Tak ada lagi mimpi-mimpi yang membuatku cemas di sela-sela tidurku. Sebelumnya kukatakan padamu jika aku memiliki kekasih. Aku mendoakanmu baik-baik di sana. Selalu. Semua hal yang kau putuskan untuk tak lagi kuketahui. Hal yang membuatku banyak bertanya-tanya sampai hari aku menulis ini. "Mengapa?" Aku berharap satu hal yang jangan pernah kau ketahui, adalah bahwa, aku berbohong jika aku memiliki kekasih. Semua itu kulakukan untukku sendiri, supaya aku bisa berpura-pura memiliki sesuatu yang sebenarnya tak ada dan tak pernah bisa aku miliki. Dihatiku masih kamu, meski balasan untukku adalah marahmu. Aku selalu berdoa supaya kau tak pernah benar-benar membenciku. Demi tuhan, aku hanya cemburu. Memang bukan cemburu biasa. Cemburuku berlebihan. Aku tahu itu menyakitimu. Aku mohon maaf.