Tiga belas tiga puluh delapan, aku masih berantakan. Bahkan cemburuku semakin tak karuan. Apa yang bisa dilakukan perempuan yang patah dan sehancur ini? Sementara, imajinasiku sudah semakin parah. Kini, ketika aku melihat perempuan dengan helaian kain di atas rambutnya, aku membayangkan juga bagaimana kau menaruh harap padanya, meletakkan lekat-lekat kedua pupil matamu di bola matanya, menyesapnya dalam-dalam sampai semuanya habis terisap. Kemudian, kau mengelus lembut pipinya, memegang dagunya, sementara bibirmu yang kejam mulai mengaduk-aduk polesan lipstick yang tempo hari kau pilihkan untuknya: entah di pagi, siang, sore, atau malam hari, perempuan itu kebingungan demi memilih warna lipstick apa yang akan ia poles di bibirnya untuk esok hari; "Yang kanan, nomor tiga dari atas, katamu." Demi tuhan, itu warna terracotta. Lalu, perempuan itu menyanjungmu dalam-dalam. Aku cemburu, sebab, beberapa bulan yang lalu kau melakukan hal yang sama kepadaku. Sesuatu yang tak mudah dil...