Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2021

Terkadang Aku Ingin Menjelma Kucingmu

Sehari saja, kalau bisa Aku ingin menjelma kucingmu Yang mengerang, membangunkanmu di kala dini hari Membunuh semua mimpi-mimpimu tentangnya. Aku akan mencakar-cakar perut dan dadamu kala kau mengigau tentang perempuan dalam mimpimu itu Kalau bisa sampai bajumu robek. Oh, tapi aku lupa Kau sama sepertiku yang telanjang Hanya ada bulu-bulu yang menyelimuti pori-pori halus kulitmu juga ku Jadi marilah kita... "Tapi, tunggu dulu. Aku lapar" Bukankah aku mengerang di telingamu untuk mendapatkan apa yang kumau? Jadi bangunlah, usap kepalaku Tetapi kau hanya diam menggigil Aku berlalu dari kamarmu dan merasa tidak berguna Lalu kau tau apa yang kucingmu lakukan di siang hari? Aku akan duduk di laptop kerjamu Terkadang mataku nyalang melihat layar laptopmu Aku akan meraih-raih layarnya dengan tanganku ketika kau pergi membuat secangkir kopi di dapur. Satu rahasia terbongkar. Perempuan itu masih berlalu lalang di album fotomu. Aku mengendusnya. Busuk! Kau akan tersentak dengan ke...

Rindu Yang Mati

Ketika aku dijadikan alat perantara sedih dan bahagiamu, Gelapkah, terangkah? Gelap tak berarti aku buta, di saat terang tak bisa menjelaskan apa-apa. Waktu yang memang tak seharusnya tunduk, atau kah aku yang memang terkutuk? Sedih itu mengendap di sela-sela malam menuju dini Rangkul-rangkul tanya tak henti-hentinya menerka. Apakah aku siap mati? Apakah kamu siap mati? Mengapa rindu yang lebih memilih mati? Sementara ingatanmu tak lagi bersejalan dengan ingatanku.

Di Antara Itu

Kalian bersembunyi dengan sangat rapi. Bahkan, sampai sekarang aku tak bisa berhenti untuk tak menyalahkan diri sendiri. Ketika memilih bertahan adalah sebuah kebodohan, atau memilih pergi berarti aku mengulang kesepian. Sayangnya, aku memilih di antara itu.