Lelakiku

Lelaki baruku kala itu membalas lambat pesanku; kita masih sesama orang asing.
Lalu dia mengajakku ke tempat yang lebih privat. Kita bertukar cerita-cerita ringan di hari itu.

Senang ketika semuanya berubah menjadi semakin intim.
Lelaki baruku mengirimiku pesan setiap hari. Katanya, dia menginginkanku. Aku juga menginginkannya.
Tapi aku mengerti kalau ini bukan jatuh cinta. Aku tidak sedang jatuh cinta, begitu pun dia. Mungkin begitu.

Lelaki baruku mulai meracau tak karuan. Kukira dia mabuk, atau benar-benar sedang mabuk. Aku tidak tahu karena jarak merenggut tubuhnya dariku.
Aku mengikuti semua cara mainnya. Entah dengan dia yang mabuk atau tidak.

Aku suka tiap kali melihat lelakiku mabuk. Setengah sadar, setengah mati. Setengah nyata, setengah hati.
Aku mencoba mendekatinya, namun dia menamparku.
Dia tahu kalau aku sangat suka setiap tamparan itu. Tapi dia tidak pernah melakukannya sebelum-sebelumnya.

Lelakiku tidak hanya mengajariku mabuk, dia mengajariku seni bermusik yang dia tekuni sejak jauh-jauh waktu.
Dia juga mengajariku cara bunuh diri, meski dia tak pernah mencobanya; karena, katanya, biar aku saja yang mencobanya.
cara bunuh diri yang halus tanpa rasa sakit, katanya.
Kemudian aku mencobanya ketika aku jauh darinya. Mengajariku bunuh diri sama saja menyuruhku hilang dari kehidupannya. Dan aku melakukannya.

Komentar