Waktu di Mana Aku Benar-Benar Melepasmu ll

Tiga belas tiga puluh delapan, aku masih berantakan. Bahkan cemburuku semakin tak karuan. Apa yang bisa dilakukan perempuan yang patah dan sehancur ini? Sementara, imajinasiku sudah semakin parah. Kini, ketika aku melihat perempuan dengan helaian kain di atas rambutnya, aku membayangkan juga bagaimana kau menaruh harap padanya, meletakkan lekat-lekat kedua pupil matamu di bola matanya, menyesapnya dalam-dalam sampai semuanya habis terisap. Kemudian, kau mengelus lembut pipinya, memegang dagunya, sementara bibirmu yang kejam mulai mengaduk-aduk polesan lipstick yang tempo hari kau pilihkan untuknya: entah di pagi, siang, sore, atau malam hari, perempuan itu kebingungan demi memilih warna lipstick apa yang akan ia poles di bibirnya untuk esok hari; "Yang kanan, nomor tiga dari atas, katamu."

Demi tuhan, itu warna terracotta. Lalu, perempuan itu menyanjungmu dalam-dalam.

Aku cemburu, sebab, beberapa bulan yang lalu kau melakukan hal yang sama kepadaku. Sesuatu yang tak mudah dilakukan beberapa perempuan. Aku juga bisa membayangkan kedua tanganmu, yang sungguh, aku suka itu, sekali pun ia kau perlakukan untuk menampar dan menyakitiku bukan membelaiku.

Tapi, lagi-lagi dalam imajiku, kau melakukan apa-apa kepadanya dengan lembut. Bibirmu tak henti mengaduk-aduk bibir berwarna terracotta itu. Sementara, tanganmu mulai membelai helaian di atas rambutnya, kemudian benar-benar rambutnya. Melepasnya perlahan, hingga semua. Tidak ada aku yang tidak cemburu hari ini. Semestinya, aku ingin menulis sajak, tapi hati dan mataku sangat sulit menyembunyikan apa yang kulihat. Aku sangat ingin ini menjadi yang terakhir aku mencari tahu tentangmu. Bagimu, begitu mudah menebar perhatian ke semua perempuan. Semudah kau menghancurkanku.

Komentar