September 2022 ll
Terima kasih sudah membuatku menangis. Kurasa tiga puluh hari belakangan, aku sedang bermimpi. Mimpi burukku mengenalmu. Bermula dari bertukar pesan di hari-hari kita yang sepi, menelusur tiap-tiap sejarah ingatan. Hingga pada akhirnya, semesta mengenalkan (kita) pada apa yang kita sebut rindu. Rindu baru saja dimulai, hingga kemudian nanar membayang di kelopak mata. Bertebaran seperti mekar-mekar mawar yang rapuh tersapu angin. Berderai-derai seperti September yang hujan. Langkahku semakin gontai seiring padamnya bara api. Apa yang kupungut adalah sisa-sisa abu kenangan itu. Aku benci kenangan. Aku tak mau miliki kenangan. Sebab, ingatan-ingatanku tak pernah gagal untuk menguliknya. Kenangan memang tak selamanya buruk. Tapi bukankah itu juga awal dari pemikiran yang akan berbuntut panjang? Kita, pada akhirnya, mulai menyusun lagi kepingan-kepingan kenangan itu. Semuanya menjadi semakin buruk, ketika kau benar-benar memilih pergi. Buruk, memburuk, dan semakin buruk, hingga semua borok-...