Aruna Alamanda

Untuk gadis kecilku, Aruna Alamanda..

Mungkin tanganku tak pernah bisa menyentuh dan membelaimu, mungkin aromamu tak pernah sampai dan tak pernah bisa kucium. Namun, ketahuilah, sekali pun kau tak pernah terlahir, sayangku padamu sudah terlalu banyak.

Untuk gadis kecilku, Alamanda

Yang tak pernah lahir juga hidup, aku mengasihimu setulusnya. Menginginkan peluk dan cium yang tak hanya semu. Membelaimu setiap waktu dengan sepenuh kasih.

Untukmu, Alamanda

Apa kau juga ingat dia--yang memberimu nama depan? Sukakah kau dengan nama itu? Ya, dia kini tak bersamaku lagi. Dia memaksaku merawat ingatan bersamamu sendirian. Sejujurnya aku teramat sedih. Apalagi jika dia benar-benar melupakanmu juga. Aku tidak masalah jika dia melupakanku, karena mungkin itu sudah seharusnya--aku tak lagi menjadi bagian hidupnya, tapi jika kau juga dilupakan, mungkin memang seharusnya kau juga tak pernah ada dalam sosok apapun. Maaf.

Untukmu, Alamanda

Apa yang kau rasakan ketika kau tak pernah ada dan tak pernah benar-benar dilahirkan, namun kau begitu diharapkan dan terlampau disayangi? Apa kau akan merupa sosok lain untukku? Apa kau justru akan benar-benar hilang dan pergi dari ingatan?

Untukmu, Alamanda

Jika kau tanyakan kepadaku seberapa banyak cinta yang kupunya untukmu, tentulah akan kujawab teramat banyak dan besar. Tapi, maaf, mungkin jawaban dari lelaki yang memberimu nama depan itu tak lagi sama denganku.

Untukmu, Alamanda

Apakah suatu hari nanti kau berharap akan dilahirkan? Apakah kau akan benar-benar lahir?Jika iya, kapan waktunya? Tolong, beri tahu aku!

Untukmu, Alamanda

Tetaplah hidup sebagai aku.


Komentar