Rindu Yang Mati
Ketika aku dijadikan alat perantara sedih dan bahagiamu,
Gelapkah, terangkah?
Gelap tak berarti aku buta, di saat terang tak bisa menjelaskan apa-apa.
Waktu yang memang tak seharusnya tunduk, atau kah aku yang memang terkutuk?
Sedih itu mengendap di sela-sela malam menuju dini
Rangkul-rangkul tanya tak henti-hentinya menerka.
Apakah aku siap mati?
Apakah kamu siap mati?
Mengapa rindu yang lebih memilih mati?
Sementara ingatanmu tak lagi bersejalan dengan ingatanku.
Komentar
Posting Komentar